Featured

Welcome to Dunia Rana

Dunia Rana

Sharing is caring…

— . Iis R. Soelaeman

Sesungguhnya saya seorang ibu biasa. Namun saya memiliki kehidupan yang sedikit berbeda dengan ibu kebanyakan ketika putri cantik saya, Rana Nashisti Dhiyata, divonis sebagai penyandang Cerebral Palsy. Saya ingin membagikan perjalanan kehidupan kami. Semoga tidak terselip narsis karena sejatinya kami hanya ingin berbagi pengalaman. Sharing is caring.

Persiapan Sekolah Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Saya senang sekali membaca berita tentang sekolah inklusi. Tahun ini setidaknya akan ada 2-3 sekolah inklusi di setiap kecamatan. Apa artinya? Kesempatan anak-anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah inklusi makin terbuka lebar. Wah…sebuah berita yang patut kita sambut gembira oleh orangtua yang memiliki anak disabilitas. 

Untuk diketahui, pada tahun 2016, survey Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan dari jumlah 4,6 juta anak tidak sekolah (usia pendidikan dasar sampai menengah), sekitar 1 juta jiwa adalah anak-anak berkebutuhan khusus. Sementara itu, dari catatan Badan Pusat Statistik, di tahun 2017 anak berkebutuhan khusus berjumlah 1,6 juta. Artinya ada sekitar 65% yang tidak bersekolah. 

Tentu ada berbagai faktor mengapa anak berkebutuhan khusus tidak bersekolah. Jarak ke sekolah inklusi atau SLB yang jauh, belum tersedia sekolah yang sesuai dengan kondisi anak, ketiadaan biaya, tidak ada yang bisa mengantar-jemput dan tidak ada yang bisa mendampingi di sekolah, atau kondisi disabilitas anak tergolong berat.

Bila anak kita belum bersekolah, tergolong yang manakah? Anak saya, Rana, memang tidak bersekolah karena dia tergolong pada Cerebral Palsy grade berat. Eh, sempat deng selama 2 tahun “sekolah” yang menekankan pada pengenalan diri dan sosialisasi.

KAPAN ANAK SIAP BERSEKOLAH?

Yang perlu diingat oleh orangtua, jangan buru-buru memutuskan anak harus sekolah, hanya lantaran anak-anak sebayanya sudah bersekolah. Kondisi disabilitas setiap anak berbeda, lo. Bahkan, untuk satu jenis disabilitas saja, sebutlah Cerebral Palsy, itu berbeda satu sama lain. 

Untuk memastikan anak kita siap bersekolah atau tidak, konsultasikanlah dengan psikolog pendidikan. Mereka anak melakukan asesemen untuk putra-putri kita. Asesmen ini penting untuk menganalisis, menginterpretasi, dan mengukur kompetensi anak kita. Hasil asesmen ini juga akan membantu orangtua untuk menentukan anaknya bersekolah di mana. Biasanya ada dua pilihan sekolah: Sekolah Inklusi (SI) atau Sekolah Luar Biasa (SLB) dan program pembelajaran seperti apa yang dibutuhkan oleh anak agar mampu berkembang optimal. 

MENCARI & MEMILIH SEKOLAH

Nah, bila sudah mengantongi hasil asesmen dan mendapat rekomendasi dari psikolog yang menyatakan anak kita siap bersekolah, berikutnya orangtua harus mencari sekolah untuk anaknya, dengan memperhatikan beberapa faktor berikut:

– Jarak sekolah tidak jauh dari rumah

Carilah sekolah inklusi ataupun SLB yang dekat dengan rumah. Tujuannya agar anak tidak kelelahan bila jarak tidak terlalu jauh dan waktu tempuh pun relatif sebentar. Kelelahan di jalan akan membuat anak tidak bisa konsentrasi penuh saat belajar. 

  • Fasilitas sekolah

Lakukan survei apakah fasilitas sekolah mampu mendukung kebutuhan ruang gerak anak. Semisal, bila anak berkursi roda, bagaimana aksebilitas anak pada fasilitas sekolah seperti toilet, ruang kelas, area bermain, dan sebagainya. 

  • Program pembelajaran

Bukan cuma pihak sekolah yang melakukan wawancara terhadap calon orangtua murid, orangtua pun diperkenankan untuk mencari tahu tentang program pembelajaran yang disediakan sekolah tersebut. Pelajari apakah program pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan anak. Tentu saja orangtua pun perlu menggali bagaimana metode belajar di sekolah tersebut yang akan diterapkan pada anak? 

Kualitas SDM

Jangan salah, lo, ya, tidak semua guru mampu menjadi guru bagi anak disabilitas. Oleh karena itu, cari tahu sebanyak mungkin bagaimana kapabilitas guru-guru di sekolah tersebut dalam pemahaman dan pendampingan terhadap anak disabilitas. Jangan sungkan untuk bertanya lebih mendalam agar kedua belah pihak menjadi nyaman. Bukankah anak akan dititipkan sebagian besar waktunya di sekolah? Orangtua harus yakin bahwa anak berkebutuhan khusus akan mendapat pendampingan dari guru yang paham mengenai kondisi anaknya. Begitu juga dengan staf sekolah yang lainnya, apakah mereka memiliki pemahaman yang baik mengenai anak disabilitas.

  • Guru Pendamping

Tanyakan dengan rinci apakah sekolah menyediakan shadow teacher atau guru pendamping? Biasanya akan ada biaya tersendiri untuk guru pendamping di luar biaya reguler sekolah. Bila orangtua yang harus menyediakan guru pendamping sendiri, carilah terapis yang memang banyak menyediakan jasa ini. 

Tim Profesional

Pastikan sekolah tersebut memiliki tim profesional, terutama psikolog yang akan membantu penanganan dan perkembangan anak berkebutuhan khusus. Lebih ideal lagi bila di sekolah tersebut tersedia juga layanan terapi yang masih dibutuhkan anak. Bila layanan ini tidak tersedia, anak diharapkan tetap mendapatkan terapi yang dibutuhkan yang dilakukan di luar sekolah.

  • Catatan Khusus Anak

Berikan catatan pada sekolah apa saja yang menjadi kebiasaan-kebiasaan penting pada anak yang perlu diketahui guru. Semisal, anak tidak bisa berlama-lama dalam kondisi kepanasan karena akan muncul epilepsi, anak sensitif terhadap suara dengan intonasi tinggi/teriakan.

SIAPKAN ANAK

Bila pilihan sekolah sudah ditentukan, maka orangtua perlu menyiapkan anak. 

–  Ajaklah anak bermain/berkunjung ke sekolah tersebut

Tentu saja hal ini bermaksud agar anak mengenal lingkungan sekolah tersebut. Lakukan kunjungan pertama di saat sekolah libur, sehingga anak belajar mengenai fasilitas sekolah. Kunjungan berikutnya dilakukan saat jam belajar sehingga anak tahu bahwa bersekolah akan membuat dirinya bertemu teman-teman sebaya, juga adik dan kakak kelas. 

– Siapkan mental anak.

Ajarkan pada anak bahwa anak tidak akan mendapat perhatian yang sama persis seperti di rumah sendiri. Justru ini merupakan proses belajar bagi anak (juga orangtua) bahwa setiap manusia itu berbeda. Dengan berbekal anak percaya diri, dia diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.

– Saling menerima dan menyesuaikan.

Adakalanya sebagai orangtua dari anak berkebutuhan khusus, kita berharap orang lain akan memperlakukan anak seperti kita memperlakukannya. Tentu saja ini tidak salah, namun turunkanlah ekspektasi agar kita tidak kecewa. Di sekolah, anak kita akan bersosialisasi dengan beragam latar belakang anak lainnya yang memiliki karakter berbeda-beda. Andai, ada satu-dua perlakuan kurang menyenangkan dari satu-dua anak, jangan membuat anak patah hati. Juga jangan membuat orangtua marah. Beri kesempatan pada anak kita untuk tangguh menghadapi hal-hal tidak menyenangkan. Beri juga kesempatan pada anak-anak lain untuk belajar memahami kondisi anak kita. Proses penyesuaian dua arah ini memungkinkan terjadi bila orang dewasa memberi kesempatan seluas mungkin. 

  • Saling mengerti sesama orangtua

Bila anak belajar bersosialisasi dengan temannya, pun orangtua. Bisa jadi Ibu-Bapak akan mendapatkan ketidaknyamanan atau kurangnya penerimaan dari orangtua lain atas keberadaan anak kita. Mungkin saja hal ini terjadi lantaran anaknya pernah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan akibat ulah anak kita. Saya pernah mendengar cerita, ada orangtua yang justru keberatan karena anaknya pernah dipukul oleh anak berkebutuhan khusus yang tantrum di sekolah. Selesaikan persoalan-persoalan semacam ini bersama guru/sekolah juga orangtua lain agar mendapatkan solusi yang melegakan kedua belah pihak. 

Kita akan sama-sama belajar tidak semua mampu menerima karena memang belum paham dengan kondisi anak kita. Namun, kita pun perlu menyadari bahwa kejadian semacam itu akan membuat anak lain trauma, bukan? Salah satu solusi memang dengan tetap menyediakan suster/pendamping anak di sekolah agar tetap bisa memantau dan membantu anak. 

Beri ruang dan waktu pada setiap individu untuk saling belajar satu sama lain. Bersekolah, bukan sekadar menuntut ilmu, namun juga belajar bersosialisasi, belajar menerima dan memahami perbedaan untuk hidup selaras dalam kesetaraan. 

Selamat belajar!

WHEELCHAIR DISKON 90%

Pasti pengen tahu, kan, ada wheelchair diskon 90%? He he he… Di mana? Rasanya pengen buruan menyerbu tokonya. Naluri emak-emak kalau dengar ada diskon. Wajaaaarrrrr….. apalagi ini wheelchair yang jadi salah satu kebutuhan alat bantu anak Cerebral Palsy (CP).

Weelchair menjadi benda penting buat anak-anak CP yang BELUM BISA berjalan. Pun buat Rana. Saya selalu bilang BELUM BISA, menghindari pemakaian TIDAK BISA. Mengapa? Bagi saya, sikap optimis itu harus dibangun dalam diri –salah satunya- dengan penggunaan kalimat-kalimat positif. Barangkali ini menjadi poin penting bagi saya dan Rana untuk selalu optimis memandang apa pun. Dengan demikian hati kami pun mudah bahagia menjalani hari demi hari.

Ups…baru paragrap kedua sudah ngelantur. Padahal saya mau ngomongin wheelchair. Wheelchair atau kursi roda adalah “kaki” yang membantu mobilitas anak CP. Setidaknya juga membantu Ibu untuk tidak selalu menggendong. Makin lama anak makin berat paaannn…. Lebih dari itu, wheelchair juga membantu postural agar terjaga dengan baik. Karena itulah, pada anak-anak dengan kondisi-kondisi tertentu, tidak bisa dengan kursi roda biasa. Perlu wheelchair yang mampu memenuhi kebutuhan posturalnya.

Sampai usia 3 tahun, Rana masih menggunakan stroller balita biasa. Dokter rehabilitasi medik dan terapisnya  sudah menyarankan untuk segera menggunakan kursi roda yang bisa mensupport kondisi Rana. Secara teori, bila anak belum bisa duduk sendiri di usia 2 tahun, kemungkinan untuk bisa berjalan sangat kecil. Tentu saja ini bukan harga mati, karena toh banyak juga yang bisa baru bisa berjalan di usia 6 tahun, bahkan lebih. It’s miracle.

Kalaupun saya kemudian memutuskan untuk mulai mencari-cari kursi roda yang bisa support kondisi Rana, bukanlah lantaran mulai tidak percaya diri akan masa depan Si Cantik  atau mulai kehilangan sikap optimis. No! Rana saat itu memang butuh kursi roda yang nyaman, pas, aman, dan mensupport segala keterbatasannya. Just it!

Pertengahan 2001 saya mulai searching via internet. Aduh jangan bayangkan internetnya seperti sekarang ya. Searchingnya di komputer kantor yang tersambung ke internet. Oh ya, waktu itu belum semua komputer terkoneksi jaringan internet. Saya searching dibantuin temen-temen kantor. Atas saran terapisnya Rana -orang  Jerman yang sudah lama bermukim di Indonesia- saya mencari Ottobock. Voila….nemu!!! Emang keren banget. Baru lihat gambarnya saja sudah naksir berat.

Setelah berkorespondensi dengan pihak Ottobock Jerman, saya mengkeret. Tinggi saya yang cuma 150cm itu rasanya mengecil menggelung cuma selemparan bola bekel. Ciuuuttt…..  Ya ampuuun harganya beda tipis sama mobil Kijang Kapsul yang baru. Bagaimana saya bisa beli? Gaji satu tahun dikumpulin pun belum cukup memboyong Kimba Wheelchair Ottobock tersebut. Enggak ada yang bisa dijual pula atau digadaikan. Rumah masih ngontrak, mobil belum punya. Hihihihi curcol….maaf maaf maaaaf.

Ah dasar saya si emak pantang menyerah. Saya membatin, “Ya Allah, ini uang adanya cuma 2,5 juta. Itu pun Engkau Maha Tahu kalau uang ini sssttt… dapat pinjam dari HRD kantor. Sisanya, yang 26 jutanya, bagaimana ya?” Pokoknya seharian itu sampai tengah malam, saya “ngobrolin” ini dengan SANG MAHA KAYA. Hanya kepadaNYA, tempat kita mengadu dan meminta, bukan? Obrolan saya dengan Sang Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi ini sungguh sak-apa adanya saya. Apa yang bisa kita sembunyikan dariNYA? Jelas tak ada. Segala keluhan dan planning disampaikan semua. Saya mau pinjam dan mau minta pada Allah. Itu intinya.

Besok paginya saya masih membalas korespondensi dengan pihak Ottobock Jerman. Formulir tentang Rana harus diisi tuntas: panjang kaki, panjang dari pangkal paha ke lutut, lebar panggung, lingkar dada, tinggi badan, dan seterusnya dan sebagainya. Send…. “Kegilaan” saya memang terlihat nyata. Duit enggak punya, tetap kirim formulir. Optimis! Beda dikit sama gendeng bin nekad.

Seminggu kemudian, saya diminta menghubungi Ottobock Indonesia oleh Ottobock Jerman (dan saya baru tahu di Jakarta ada distributornya di daerah Kebon Sirih –kalau saya tidak salah ingat). Lalu, mereka (aduh ingatan saya tentang nama orang Ottobock Indonesia ini menguap alias lupa blas) datang  ke rumah. Mewawancara dan mengukur Rana dengan teliti. Usai pengukuran, saya bilang “Formulirnya disimpan baik-baik ya, Pak. Saya masih mengupayakan pembayarannya.” Bapaknya tersenyum, “Kami tidak ready stock Bu, jadi kemungkinan ini bisa sebulan barang baru datang.” Sebulan buat si bapak itu mungkin lama, supaya saya bersabar menunggu. Lah buat saya? Cepet amat…. pan gaji saya setahun enggak dipake aja belum bisa kebeli itu wheelchair. Saya ngasih DP aja enggak berani. Pusying nian kalau barang datang, uang belum datang. Krik krik krik….. Pikir saya waktu itu, mau pinjam ke bank. Tapi masih nyari2 bank mana yang bisa minjemin tanpa jaminan 

Singkat cerita, tiga minggu kemudian ada yang datang ke rumah, membawa satu dus besar. “Dari Ottobock, Bu,” kata si mbak yang membukakan pintu. “APAAAAAA?” Kok bisa mereka datang padahal saya belum bayar, toh. Saya gemetaran.

Jreng jreng….mereka langsung setting kursi, menjelaskan cara penggunaannya dan sebagainya-dan sebagainya. Saya kurang konsentrasi mendengarkannya. Dua bapak itu pasti enggak sempat membaca muka saya yang pucat pasi mikirin duit di tangan yang cuma 2,5 juta. Selesai setting, mereka duduk di kursi tamu. Saya masih bengong dan membatin, “Ya Allah, kumaha ieu teh? Saya harus ngomong apa sama orang ottobock?’

“Diminum dulu, Pak.” Basa-basi yang mengulur waktu agar saya mampu menyusun kata.

“Harganya berkurang 1 juta, Bu. Jadi 27,5 juta. Ibu masih ada kekurangan 2,5 juta lagi. Bisa bayar cash di sini atau mau transfer juga boleh. Saya sudah siapkan kuitansinya.”

Sungguh, kuping saya tidak budeg. Normal. Bapak Ottobock itu bilang, “Kekurangannya 2,5 juta.” Jelas. Nyaring. Clear.

Saya lemas bersender ke kursi. Saya langsung tahu persis siapa “malaikat “ baik hati yang membayari 25 juta dan mengizinkan saya membayar sisanya. Sisa 2,5 juta yang saya pinjam dari kantor itu. “Ya Allah….caraMU, kok, seindah ini.” Jangan tanya ya, bagaimana saya menangis waktu itu. Saksinya si 2 asisten yang begitu Bapak Ottobock pulang, langsung berteriak-teriak kegirangan sambil menciumi Rana. Hari itu, kami sekeluarga norak bukan kepalang, persis kayak segerombolan anak kecil dapet es krim. Rana punya wheelchair menjelang ultah ke-4. Horeeeeeee!!!!

Keesokan harinya, saya temui “malaikat” itu.

“Elo baik banget sih, membayari duluan sebelum gw minta tolong. Gw bayarnya boleh dengan mencicil, ya?” Eh eh eh… jangan pada heran ya, sama “malaikat” yang ini memang bersapa “elo-gw”.

“Yang nyuruh nyicil siapa?” jawabnya lempeng dan judes, sih (emang bawaannya).

“Ya, karena gw enggak mungkin bayar utang itu sekaligus. Gede banget.”

“Yang bilang itu utang, siapa?”

“Lah… ya utang dong.”

“Utang itu kan versi elo. Kalau gw sih emang pengen ngasih ke Rana. Bukan ngasih ke elo juga.”

“Ya, tapi Rana kan anak gw. Jadi gw sebagai ibunya yang punya tanggung jawab ke Rana.”

“Jangan egois. Masa Rana cuma jadi ladang pahala emaknya doang. Gw juga boleh dong ikutan.”

Mata mulai berair yang siap mengaliri dua pipi tembem saya. Banyak kata tercekat tak sanggup keluar karena tidak tahu juga menyusunnya harus bagaimana.

“Udah udah sana ah…jangan mewek di sini.”

Semudah itu baginya. Seindah itu bagi kami. Allah yang Maha Segala, bila sudah berkehendak, hanya menyebut “Kun Fayakun…” Jadilah, maka terjadilah. Saya hanya bisa berterima kasih dengan mengalirkan doa-doa terbaik bagi “malaikat” yang dikirimNYA, dan bersyukur selalu atas segala kemudahan yang diberikanNYA.

Sampai sekarang, Kimba Wheelchair Ottobock “Diskon 90%” itu masih setia menemani Rana. Sudah 20 tahun lamanya menjadi “kaki” buat Rana. Awet awet awet ya……

Jadi, pertanyaan pada paragraf pertama itu pernah terjadi dalam kehidupan kami. Bukan tidak mustahil itu terjadi pada anak-anak CP lain. Yakinlah!

*cerita ini saya dedikasikan untuk para ibu yang inbox maupun chat bertanya soal kursi roda Rana. Maaf saya tidak pernah menjawab detail setiap kali ditanya. Sepanjang ini ceritanya. Tetap semangat. Mintalah hanya pada Allah, Sang Pemberi. Jangan izinkan tangan kita menjadi “tangan di bawah” kepada manusia. Ikhtiar-berdoa-ikhtiar-berdoa itulah tugas manusia di muka bumi. Selebihnya serahkan pada Allah.

Life is Choice

Life is a matter of choices, and every choice you make makes you.” —John C. Maxwell

Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Mau menerima atau menolak, mau berangkat atau batal, mau olahraga atau tidur. Mau sedih atau gembira, dan sederet pilihan lainnya.

Setiap pilihan tentu saja menyodorkan konsekuensi. Kalau rajin akan begitu, kalau malas akan begini. So, pilihan ada di tangan kita, konsekuensinya pun jadi milik kita.

Dalam keterbatasannya, sejak kecil saya biasakan Rana untuk menentukan pilihan. Dulu Rana menggunakan alat komunikasi untuk menentukan “Ya atau Tidak” “Mau atau Tidak Mau” “Kanan atau Kiri”
Sebelumnya saya merekam suara dulu ke dalam alat tersebut. Alat berwarna putih untuk menunjukkan hal-hal positif, seperti YA, MAU, IKUT. Sedangkan untuk menunjukkan hal sebaliknya berwarna merah.

Ketika ditanya, “Rana Ikut atau Tidak?” Rana akan menekan salah satu alat yang menjadi jawaban/keinginannya. Sebutlah dia mau IKUT, Rana akan menekat alat berwarna putih yang akan mengeluarkan suara “IKUT”. Jangan bayangkan saya akan mendapat jawaban kilat dari Rana. Perlu waktu 1 sampai 3 menit membuat Rana berhasil menekan alat tersebut. Bahkan adakalanya lebih dari itu.

Sayang kemampuan itu menurun secara perlahan berbarengan dengan kemampuan tangan dan lengan untuk bergerak. Sekarang ini Rana lebih banyak menggunakan kode mata dan bibir.

Bila saya hendak pergi, “Besok Ibu ada kerjaan di X, Ibu akan pergi ke sana sekitar 4 jam lamanya. Boleh atau Tidak?” Bila Rana tersenyum berarti (horeee) boleh. Bila diam cenderung cemberut dengan raut wajah mau menangis berarti Tidak Boleh. Ini PR buat Ibu merayu kalau penting banget kerjaannya. He he he he… Bohong deng, ibunya mengalah 100% pada Rana ❤

Bila yang ingin dilatih adalah kode dari mata, saya akan memberikan gambar yang harus dipilihnya. Katakan, “Kak Rana mau makan apa? Ini fillet ikan dori (saya tunjukkan di gambar sebelah kanan). Ini baked potato (saya tunjukkan gambar sebelah kiri).” Tunggulah dengan sabar mata Rana melirik ke mana? Ke kiri atau ke kanan? Maka itulah yang disediakan oleh Ibu, sesuai lirikannya.

Jangan bayangkan jawaban Rana seperti secepat dan selancar percakapan, “Apa kabar?” “Kabar baik”.

Saya perlu menunggunya. Membiarkan pertanyaan saya menggantung dalam senyap untuk memberi kesempatan pada Rana meresponsnya. Jangan ada interupsi percakapan lain sampai jawaban disampaikan oleh Rana, agar ia tidak kebingungan.

Mudah? Tidak. Apakah selalu berhasil? Tidak selalu. Capek? Iya, sih….
Kuncinya? Sabar….

Saya memilih tetap ngobrol dengan Rana. Heart to heart….

💖💖💖

Positive Talk

“Terima kasih” merupakan salah satu kata sakti yang diajarkan sejak kita kecil, berbarengan dengan kata “maaf” dan “tolong”.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “terima kasih” (penulisan yang benar dipisah ya, bukan “terimakasih”) memiliki arti:
te·ri·ma ka·sih n rasa syukur;
ber·te·ri·ma ka·sih v mengucap syukur; melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dan sebagainya.

Apakah ungkapan terima kasih hanya berlaku untuk orang lain di luar diri kita? Mengapa, ya, kita tidak diajarkan untuk berterima kasih pada diri sendiri? Coba ingat-ingat pernahkah kita berterima kasih atau kapan terakhir kita bilang terima kasih pada diri sendiri?

Diri kita pernah mengalami masa-masa penuh tantangan, dan berhasil melewatinya.
Diri kita pernah mengalami hal-hal sulit, dan lolos menjalaninya.
Diri kita sering jatuh tersungkur, tapi kemudian mampu berdiri tegak kembali.
Diri kita pernah menangis menahan perihnya luka yang mencabik hati. Namun kemudian menghapus air mata, dan menggantinya dengan senyum optimis menjalani hari.

Heeeei…. ternyata diri kita itu tangguh. Berterimakasihlah pada diri atas ketangguhannya sampai kita berada di titik ini.

Tak lupa, bersyukur karena
Al-Qawiyyu, Allah Maha Kuat, telah menganugerahi diri kita kekuatan.

❤❤❤

30 Minutes Before Sleep


Berkisar pukul 20.30 sampai 21.30, mata saya akan dimanjakan dengan momen indah ini. Biasanya, diam-diam saya memotretnya dari jarak aman alias candid. Tak heran ketika di-zoom, fotonya pecah kadang juga buram.

Azmi selalu memastikan urusan pribadinya selesai sebelum pukul 20.30. Seperti ada alarm dalam tubuhnya. Begitu jarum jam berada di angka tersebut dia akan membereskan laptopnya, kemudian ke dapur menyeduh segelas susu hangat. Lalu dia akan memberi susu buat Rana, lanjut sikat gigi, dan kemudian “memangkunya” sambil menunggu jam tidur tiba.

Momen yang indah. Rana bersandar di dada Azmi. Mereka ngobrol berduaan dengan topik random khas remaja. Rana suka kalau adenya mengusap-usap rambutnya. Namun sering ngambek ketika si ade curi-curi cium pipinya. Pelukan hangat Azmi kerap meninabobokan Rana hingga pulas di pangkuannya.

Kadang momen ini pun digunakan untuk nge-game atau nonton video-video lucu di ig maupun youtube. Oh ya sering juga Azmi asyik discord bareng teman-temannya, Rana ikutan ngoceh-ngoceh.

Tak ada yang meminta Azmi bersikap demikian. Tak pernah juga saya menugasinya. Kesadaran itu datang dari dirinya. Menjadi bagian dari Rana adalah membantu banyak hal terkait kehidupan Rana. Tak heran, dia akan memenej dirinya sendiri agar punya keterlibatan dengan Rana. Makin tahun, makin banyak yang dia ambil alih dari Ibu terkait hal-hal Rana. Setiap kali ditanya, Azmi akan menjawab, “Kita akan selalu menjadi bagian satu sama lain. Saling membantu adalah salah satu caranya.”

30 menit yang indah.
❤❤❤

Me Time untuk Ibu dengan Anak Special Needs

Benarkah Ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) cenderung lebih rentan stres? Menurut Blacher & Baker (dalam Martin & Colbert, 1997) orangtua yang kelelahan karena energi tersedot oleh tuntutan perawatan dan pengasuhan, juga merasakan stigma dengan keterbatasan anak, ditambah beban biaya finansial berpotensi memunculkan stres.

Karena itulah, setiap orangtua yang memiliki ABK harus mampu mengelola energi dirinya secara lebih relaks. Orangtua (terutama Ibu yang paling banyak melakukan perawatan dan pengasuhan) perlu memenej waktu dengan baik.

Santai. Santai. Santai.

Bukan berarti tidak peduli, lho, ya. Namun, jangan mem-push diri terlalu keras, juga hindari sikap nge-push anak spesial sampai menimbulkan trauma terapi dan pengobatan. Bukankah kalau Ibu stres, anak pun akan stres. Bahkan, seisi rumah turut terkena dampak.

Sayangi Dirimu, Bu.

Kebanyakan Ibu selalu menomorsatukan urusan anak, pasangan, dan keluarga. Ibu kerap lupa memerhatikan dirinya sendiri. Padahal, ibu pun perlu mencintai dirinya sendiri dengan menyediakan waktu buat dirinya. Ibu pun butuh refreshing.

Cara terbaik untuk refreshing adalah melakukan me time. Jangan pernah merasa bersalah ketika Ibu mengambil waktu spesial untuk diri sendiri. Justru ini penting untuk kesehatan mental Ibu. Me time merupakan waktu ibu untuk menata tubuh, jiwa, dan emosinya agar lebih stabil. Bukankah setiap hari rutinitas ibu mengurus anak spesial dan anak lain (bila ada), mengurus suami, rumah, dan ditambah pekerjaan kantor/bisnis (bagi ibu bekerja) akan menguras energi dan membuat ibu kelelahan.

Nah, dengan me time ibu tengah berupaya mengembalikan energi dan emosi agar kembali relaks. Ibarat baterai yang di-charge, ibu akan kembali bertenaga.

Tidak Harus Mahal, Kok

Ibu perlu mengenali ritme tubuh sendiri. Tanda-tanda Ibu perlu me time, bila:

  • mudah tersinggung
  • mudah marah
  • cepat lelah
  • merasa bosan
  • berkurang nafsu makan atau sebaliknya makan berlebih
  • sulit tidur atau tidurnya kurang berkualitas

dan sebagainya

Bila ada 1 atau 2 tanda di atas, jangan sungkan untuk me time. Me time itu bukan sesuatu yang harus berbiaya mahal, kok. Ada banyaaaak sekali cara.

  • membaca buku kesukaan
  • nonton film atau drakor
  • menyeduh teh panas atau kopi kegemaran, kemudian menikmati sendirian di pojokan favorit di rumah
  • mandi berendam
  • menulis: diary, puisi, cerpen, catatan perjalanan, dsb
  • pijat refleksi
  • bertemu teman/sahabat
  • meditasi

dan lain-lainnya banyak sekali

Apa yang terjadi bila ibu tidak punya me time?

*Depresi

Ibu yang tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri bisa jadi tampak baik-baik saja dari luar. Namun, sesuatu yang dipendam tak tampil di permukaan, memungkinkan meledak di waktu tertentu.

*Emosi tidak stabil

Karena kelelahan dengan tugas-tugas rutin yang menjadi tanggung jawabnya, bisa saja Ibu kurang tidur dan jenuh. Hal ini bisa menyebabkan emosi ibu cenderung tidak stabil, gampang tersinggung dan marah. Hal yang biasanya tampak sepele, tiba-tiba menjadi pemicu kemarahan ibu.

*Ibu mudah sakit

Apabila tubuh terus menerus kurang istirahat dan mengalami tekanan mental, bisa memengaruhi imunitas tubuh. Hal ini bisa mengakibatkan ibu mudah sakit.

*Kurang produktif

Setiap ibu selalu ingin memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, bagaimana ibu bisa memberi yang terbaik bila tubuh ibu kelelahan. Ibu pun menjadi kurang produktif melakukan tugas-tugasnya.

*Menyesali hidup

Pada taraf tertentu, ibu seolah-olah menyesali dengan kehidupan pernikahannya. Kendati memiliki anak-anak yang manis dan suami yang baik, ibu tidak bisa merasakan itu. Ibu merasa hidup tidak adil karena ibu terus menerus dituntut melayani keluarga, sementara tidak bisa menyayangi diri sendiri atau merasa tidak ada yang menyayanginya.

            Nah, melihat betapa pentingnya refreshing dengan me time, sesungguhnya ibu sedang menyayangi diri sendiri. Setuju?

4 Kiat Melibatkan Siblings dalam Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus


Banyak yang bertanya pada saya, bagaimana kedua saudara Rana, terutama Azmi, si bungsu bisa terlibat penuh dalam pengasuhan dan perawatan Rana.
Yang membuat banyak orang heran, karena Azmi ini anak laki-laki yang tengah remaja. Menurut banyak orang, usia segitu sedang asyik-asyiknya dengan diri sendiri dan peer group-nya. Banyak juga yang heran, kok, bisa anak laki-laki berperan dalam kegiatan-kegiatan yang umumnya dilakukan perempuan?
Jawaban dari pertanyaan pertama, tentu saja merupakan proses panjang keluarga kami yang tidak cukup dilakukan sekali-dua kali atau cuma sehari-dua hari langsung jadi.
Untuk pertanyaan kedua, saya ini termasuk aliran manusia yang menerapkan kesetaraan gender. Tak ada pembeda tugas, kecuali mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Nah, bagaimana saya melibatkan Azmi dalam pengasuhan dan perawatan Rana? Ini langkah-langkahnya:

Memberi Pemahaman
Saya menjelaskan dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami Azmi: tidak menggunakan istilah medis yang berat, tidak memberi gambaran menakutkan. Azmi berhak mengetahui dan memahami mengapa Kak Rana menjadi Cerebral Palsy.

  • Saat Azmi Balita
    • Waktu masih bayi Kakak sakit sehingga kondisinya seperti sekarang.
    • Kakak harus kontrol ke dokter setiap bulan. Kita semua akan menemaninya.
    • Kakak minum obat supaya bisa sembuh.
    • Kakak juga terapi sebagai upaya agar bisa seperti kita.
    • Saya meminta bantuan dokter untuk menjelaskan pada Azmi setiap kali kami konsultasi. “Ade boleh bertanya pada dokter apa yang menjadi pertanyaan Ade tentang Kakak. Dokter pasti akan membantu Ade bisa mengerti soal kondisi Kakak.” Tentu saja Azmi banyak bertanya, dan dokter pun dengan senang hati menjelaskan gambaran medis Kaka Rana.
  • Saat Usia SD
    • Kakak mungkin tidak akan bisa berjalan seperti kita, namun dia bisa bergerak ke sana-sini dengan menggunakan kursi roda yang perlu kita bantu.
    • Kakak belum bisa berbicara seperti kita. Namun Kaka Rana bisa menyatakan dia mau apa. Kalau mau makan dan minum, dia mengecapkan lidahnya, kalau mau pipis dia memberi kode dengan suara “euh euh euh” dan seterusnya. Kita akan belajar memahami bahasa nonverbal Kakak untuk berkomunikasi.
    • Kita akan belajar bersama-sama mengenai kondisi Kakak dan beradaptasi. Kakak pun belajar juga, lho. Kakak belajar menerima kondisinya yang berbeda. Kita pun belajar menerima Kakak dalam keterbatasannya.
    • Kita akan saling membantu untuk pengasuhan dan perawatan Rana, karena memang ia butuh bantuan, sampai – Insya Allah- suatu saat Kakak bisa mandiri. Sama juga ketika Azmi kecil, semua membantu Azmi untuk bisa membuat Azmi mandiri. Misalnya, kami semua menemani Azmi belajar berjalan, belajar makan, belajar menulis-membaca, naik sepeda, dan banyak hal sampai kemudian Azmi sekarang bisa melakukan semua sendiri. Begitulah keluarga, akan saling menolong satu sama lain.

Libatkan dalam Pengasuhan
Betapa pentingnya menanamkan pemahaman pada Azmi, bahwa ia adalah sosok penting bagi Kak Rana. Saya tempatkan Azmi sebagai “influencer” dan Kak Rana sebagai “follower”.
-Meniru Gerakan
Sejak dini saya melibatkan Azmi terhadap kegiatan sehari-hari Kak Rana. Saya ingat betul, setiap kali Azmi bayi berguling kiri-kanan, merangkak, atau apapun, saya memosisikan Rana sebagai si peniru adenya, dengan mengikuti gerakan-gerakan Ade tersebut pada Rana. “Kakak juga mau berguling seperti Ade. Yuk kita belajar berguling yuk.” Saya lakukan hal tersebut dalam setiap tahapan perkembangan Azmi, berguling, merangkak, duduk, “berjalan”, berbicara, belajar makan, dan sebagainya.
-Mengambil Peran
Saya kerap meminta tolong, “Hari ini Kak Rana pakai baju apa ya? Coba Azmi yang pilih dan ambil di lemari ya?”
Kali lain, saat Azmi makan, saya bilang, “Kayaknya Kak Rana pengen tuh kue yang Ade makan. Coba icip satu potong, De.” Adenya akan dengan senang hati menyuapkan kue tersebut ke mulut kakaknya.
Pun saat terapi, “Kakak sepertinya pengen dipasangin brace-nya sama Ade deh. Tuh matanya meliriknya ke Ade, ‘Ade… tolongin Kakak dong, kalau brace dipasang Ade, tanganku nyaman deh, De.’”
Azmi selalu dengan senang hati melakukan hal-hal yang “diminta” kakaknya. Kuncinya, setiap kali Azmi membantu Rana, tak perlu ada komplain dari orang dewasa di rumah, walaupun yang dilakukan Azmi itu jauh dari benar. Misalnya, masang brace-nya melenceng, ya enggak apa-apa. Masih kecil, kan? Masih belajar…

Memberi Kepercayaan
Azmi mulai diberi kepercayaan penuh bertahap ketika ia kelas 3 SD. Dalam hal apa saja?
-Menyiapkan obat. Tujuannya, saya ingin Azmi tahu jadwal minum obat dan jenis obat yang diberikan pada Rana. Tentu juga dibarengi dengan pemahaman mengapa Kakak perlu minum obat.
-Menyuapi susu atau camilan
Saya tawari Azmi untuk memberikan susu atau camilan secara bertahap. Semisal dari 200cc susu, Azmi menyuapi 50cc. Hal ini meningkat dari waktu ke waktu.
Selama pandemi, Azmi sudah bisa menyuapi sehari 6x: 3 kali makan utama, 2 kali camilan, 1x susu. Bahkan, berkat ketelatenannya, bb Rana naik menjadi 40kg: naik 4kg selama pandemi. Kerja hebat dari keduanya.
Tak ada paksaan. Azmi menawarkan dirinya untuk mengambil tanggung jawab itu.
-Menemani terapi dan jalan-jalan
Saya tidak hanya sekadar meminta Azmi menemani ke klinik terapi. Namun, juga memberi tanggung jawab. “Nanti Azmi yang menemani Kakak terapi. Perhatikan gerakannya. Kemudian setiba di rumah, kita praktekkan bersama pada Kakak.” Atau saya meminta Azmi untuk membuat video/foto saat Kakak terapi di klinik tumbuh kembang.
Biasanya saat berkumpul, saya akan bertanya pada Azmi, “Jadi, tadi pagi apa pesan terapisnya untuk kita?” Dia akan antusias menjelaskan bla bla bla…
-Meminta Azmi menjaga Rana
Saya melatih Azmi untuk bisa berdua dengan Rana. Berawal hanya dengan saya tinggal sebentar. Semisal, “Ibu di atas mau cuci dan setrika, Azmi yang menjaga Kakak, ya.” Lama kelamaan, saya tinggal ke ke luar rumah untuk waktu 1-2 jam. Bahkan, pernah seharian mereka berdua: saya berangkat pagi-pulang sore. Artinya seluruh urusan kegiatan Rana: makan, minum, terapi, tidur, Azmi yang mengerjakan. So far, keduanya baik-baik saja. Azmi bisa menghandle Rana dengan excellent.

Memberi Apresiasi
Penting untuk selalu bilang, “terima kasih, Azmi.” pada setiap hal yang sudah dilakukannya untuk Kak Rana. Apapun itu. Mau benar atau masih keliru, mau tulus atau masih ogah-ogahan. Belajar terus. Berproses terus. Ikhtiar terus.
Saya meyakini semua proses ini, kelak kami sendiri yang akan menuai hasilnya. Hasil yang kini bisa dirasakan Rana, Aa, juga Ibu. Tentu yang utama, untuk Azmi-nya sendiri.
Azmi sudah membuktikannya. “People think that you need me. Truth is, I need you. I’m not helping you. You are helping me to be a better person.” (Azmi Mahendra)

Pelukan Ibu, “Vitamin” buat Anak

PELUKAN merupakan salah satu ekspresi kasih sayang seorang ibu pada anak. Tapi, tahukah Ibu, memeluk anak setidaknya 8 kali sehari akan berdampak luar biasa bagi si anak? Ini sederet manfaat pelukan buat anak yang saya rangkum dari beberapa artikel di media parenting, tempat saya pernah bekerja, tabloid NAKITA.

• Anak merasa dirinya berharga dan dicintai. Anak-anak yang dilimpahi cinta cenderung tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan hangat.

• Anak merasa aman dan nyaman. Perasaan ini akan menumbuhkan sikap relaks dan tenang. Ketika dihadapkan pada masalah, ia cenderung bersikap tenang dalam menghadapi dan mengatasi masalahnya.

• Sebuah pelukan mampu merangsang hormon oksitosin dan serotonin yang membuat anak bahagia dan periang.

• Dari pelukan, anak belajar berempati pada lingkungannya.

• Pelukan akan mengembangkan sikap memberi dan menerima dalam waktu bersamaan. Ini penting agar ia tidak bersikap egois.

• Pelukan mampu meredakan kegelisahan dan amarah anak.

• Pelukan mengembangkan basic trust anak terhadap orangtuanya.

• Pelukan memberi anak pengalaman berbagai emosi: sedih, kecewa, marah, senang, gembira.

Melihat sederet manfaatnya yang luar biasa, kita perlu tahu kapan saja, sih, kita memeluk anak?

– Menjelang Tidur
Bacakanlah cerita atau ngobrol hal-hal ringan dengan anak yang sudah lebih besar sebelum tidur. Akhirilah kegiatan tersebut dengan pelukan cukup lama. Sampaikanlah harapan Ibu tentangnya, “Semoga anak Ibu selalu sehat dan bahagia, jadi anak sholeh/sholehah, dimudahkan oleh Allah menggapai cita-cita….”

– Bangun Tidur
Serepot apapun Anda, jadilah orang pertama yang dilihat anak setiap ia bangun tidur. Berilah pelukan padanya agar ia bersemangat untuk segera beraktivitas.

– Sebelum berangkat sekolah
Peluklah cukup lekat. Katakan, “Enjoy your day, ya, Nak.” Percayalah, pelukan di setiap pagi ini akan menjadi “sarapan” paling bergizi yang membuat anak bahagia dalam memulai harinya.

– Pulang sekolah
Bila Anda di rumah, sambutlah anak dengan senyuman dan pelukan hangat. Pelukan Ibu mampu meredakan segala lelahnya. Lanjutkan dengan menemaninya makan siang sambil mendengarkan ceritanya.

– Sepulang Ibu bekerja
Segera peluk anak-anak setiba Ibu di rumah. Anak-anak biasanya pun sudah tidak sabar menanti kedatangan Ibu. Pelukan ini akan mengisyaratkan betapa Ibu merindukan anak-anak selama Ibu berada di kantor.

– Saat anak kecewa, sedih, atau marah
Tak perlu kata-kata, lebih baik beri ia pelukan hangat dan usaplah punggungnya. Pelukan Ibu akan meredakan emosinya. Bila sudah mereda, beri ia kesempatan untuk menceritakan persoalannya. Jadilah pendengar yang baik.

– Usai berdoa
Bila Anda sekeluarga biasa sholat berjamaah atau berdoa bersama, beri anak-anak pelukan usai sholat/doa bersama. Interaksi fisik antara orangtua-anak akan dirasakan anak sebagai penerimaan yang penuh cinta dari orangtuanya. Sertakan selalu doa-doa untuknya setiap kali Anda memeluknya.

– Usai belajar atau mengerjakan PR
Biasakan untuk memeluknya begitu ia selesai mengerjakan tugas-tugas belajarnya. Pelukan ini sebagai isyarat betapa Ibu menghargainya.

– Di sela-sela aktivitasnya
Peluklah saat dia sedang bermain atau aktivitas lainnya. Pelukan tiba-tiba ini akan membuatnya bahagia tak terkira.

– Di hari-hari istimewanya
Beri pelukan sebagai bagian dari kado indah dari Anda saat anak berulang tahun. Bisa juga di saat-saat anak menerima rapor atau menerima penghargaan. Peluk jugalah anak sebelum dan sesudah performance, pertandingan, atau kegiatan lainnya. Enggak perlu lihat rapornya bagus atau biasa, pertandingannya menang atau kalah. Pelukan merupakan ekspresi bangga Ibu atau support Ibu yang akan menguatkannya.

So, sudahkah hari ini kita memeluk anak-anak dengan kehangatan CINTA seorang Ibu?

❤❤❤

Bersyukur

Saya bersyukur ketika Rana lahap makannya.
Saya bersyukur ketika Rana tidur nyenyak.
Saya bersyukur ketika dia mampu mengontrol lehernya untuk tegak selama 10 menit.
Saya bersyukur ketika Rana memberi kode “pup”.

Saya juga bersyukur ketika operasi dislokasi panggul berjalan lancar dan kemudian Rana nyaman dengan kondisinya.
Saya bersyukur ketika Rana dimudahkan untuk transfusi darah, yang menjadi salah satu solusi mengatasi Hb-nya yang drop.
Saya bersyukur operasi pencabutan gigi berjalan lancar dan dicover bpjs.

Namun, apakah saya (juga Anda) tetap bisa bersyukur ketika anak spesial tak jua berjalan dan berbicara? Apakah kita tetap bisa bersyukur ketika tak punya uang untuk terapi botox, beli standing frame, kursi roda, atau brace? Bahkan, apakah kita tetap bisa bersyukur saat tengah bulan stok susu habis dan kita tengah bokek berat?

Apakah kita hanya bersyukur saat diberi kebahagiaan, kenikmatan, kesehatan, kemudahan? Dan berbalik misuh-misuh dan mengeluh ketika kelelahan, kesedihan, kekurangan, dan kehilangan datang mendera?

Lantas apa sebetulnya bersyukur?

Bersyukur tidaklah berdasarkan kondisi kita: senang-susah, kaya-miskin, berhasil-gagal. Bila bersyukur hanya muncul saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, bukankah itu hanya sebuah ego?

Bersyukur sejatinya lahir dari jiwa yang percaya, kita ini hanyalah HAMBA yang diminta menjalani semua kehendak ALLAH, Sang Pencipta.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi ABK

Kita kerap melupakan kesehatan gigi anak berkebutuhan khusus (ABK). Padahal kesehatan gigi dan mulut merupakan aspek penting yang memengaruhi tumbuh kembang anak. Tentu saja, anak berkebutuhan khusus lebih rentan mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dikarenakan mereka memiliki gangguan fisik, emosi, sosial, maupun intelektual.

Aneka Masalah Kesehatan Gigi ABK

  1. Gigi berlubang

Makin berisiko terjadinya gigi berlubang pada ABK yang masih makan makanan lunak (makanan yang dihaluskan atau diblender) juga adanya kesulitan menggosok gigi secara optimal.

  • Bau mulut

Cukup banyak ABK yang bernafas melalui mulut yang disebabkan oleh jalan napas yang sempit. Bernapas melalui mulut akan mengakibatkan ukuran lidah membesar dengan permukaan lidah beralur dalam dan kering sehingga menimbulkan bau mulut dan biasanya terjadi iritasi pada sudut bibir.

  • Gusi berdarah dan karang gigi

Karang gigi maupun gusi berdarah diakibatkan oleh ketidakmampuan anak menggosok gigi dan pola makan yang kurang baik. Selain itu, adanya gangguan keseimbangan akibat mulut kering juga bisa menyebabkan pembentukan plak yang mengakibatkan peradangan pada jaringan gusi. Kita tidak bisa menganggap sepele karang gigi. Karena bila tak kunjung dibersihkan, karang gigi menyebabkan iritasi pada jaringan gusi. Hal ini bisa mengakibatkan terjadi abrasi atau hilangnya perlekatan antara gigi dan gusi. Pada kondisi yang sangat parah, abrasi gusi akan mengalami luka dan bisa menjadi pintu masuk bakteri ke dalam aliran darah. Bukan tidak mungkin anak akan mengalami kegawatan yang mengancam nyawa.

  • Mulut kering

ABK cenderung menyukai makanan manis. Hal ini dapat mengakibatkan mulut menjadi kering (xerostomia). Mulut kering juga bisa akibatkan oleh konsumsi obat-obatan rutin. Mulut kering dapat mengganggu keseimbangan bakteri di mulut. Bakteri akan terus bertambah banyak dan menghasilkan kadar zat asam secara berlebih. Nah, seringnya gigi terpapar zat asam akan mengakibatkan gigi berlubang.

Kapan anak perlu ke dokter gigi?

Kebanyakan kita pergi ke dokter gigi setelah muncul keluhan. Tentu saja ini keliru. Kontrol rutin ke dokter gigi tetap harus dilakukan setiap 6 bulan, berlaku juga buat anak-anak berkebutuhan khusus.

  1. Rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan

Carilah dokter gigi anak yang khusus menangani ABK. Ini penting lantaran dokter gigi ini sudah terlatih dan sabar menghadapi ABK yang umumnya kurang kooperatif. Biasanya dokter akan memberi sejumlah petunjuk apa yang harus dilakukan orangtua dan anak.

2. Penanganan perawatan gigi pada ABK dibagi dalam 2 pendekatan:

  • Metode farmakologi, dengan menggunakan dental sedasi Nitrous oxide (N20) yang dilakukan di ruang praktek gigi dan dengan anestesi umum di ruang operasi.

Penggunaan dental sedasi hanya boleh dilakukan di atas usia 7 tahun. Pemilihan kriteria kasus yang boleh dilakukan dental sedasi sangat ketat. Tidak semua kasus bisa dilakukan dan belum banyak layanan seperti ini di Indonesia. Sedangkan penggunaan anestesi umum pada ABK menjadi pilihan bila kasus kerusakan menyeluruh yang  menyebabkan ABK sulit makan sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.

  • Metode non farmakologi, dengan menggunakan teknik pendekatan perilaku mulai dari TSD (Tell Show Do), positive reinforcement, dan desensitisasi.

Tehnik pendekatan perilaku bisa diupayakan bagi ABK dengan keterbatasan intelektual.  Pendekatan dilakukan dengan intonasi suara yang akrab, bersahabat disertai sentuhan hangat.

Hal penting yang harus diperhatikan orangtua saat membawa anak ke dokter gigi:

  1. Jam makan terakhir

Bila anak cenderung mudah menangis, pastikan anak sudah makan 1,5 – 2 jam sebelum dilakukan pemeriksaan oleh dokter gigi. Hal ini berguna untuk menghindari aspirasi karena saat anak menangis cenderung muntah.

2. Pastikan anak tidak sedang batuk, pilek dan good mood. Sesuaikan juga dengan jam aktivitasnya. Semisal jangan bawa anak di jam-jam tidurnya karena anak cenderung  rewel saat mengantuk.

3. Bawalah mainan favoritnya, begitu juga bantal dan selimut yang akan membuatnya nyaman di ruang praktik dokter gigi.

4. Jangan tetapkan target apapun saat membawa anak periksa gigi, karena yang ditangani anak spesial sehingga perubahan mood yang tiba-tiba merupakan hal yang biasa. Bila hal itu terjadi, biasanya kasus-kasus yang tidak urgent akan ditunda penanganannya.

5. Orangtua tak perlu stress atau cemas berlebihan saat menemani anak di ruang pemeriksaan. Ciptakan suasana gembira agar anak pun mampu menerima pemeriksaan gigi atau tindakan tanpa rasa takut dan tetap senang.

Apa yang bisa dilakukan orangtua di rumah terkait perawatan gigi ABK?

– Pada ABK ringan, tetap ajarkan menggosok gigi yang benar (sesuai dengan yang diajarkan dokter gigi). Ajarkan pula cara berkumur dan hal-hal yang menjadi penunjang kesehatan gigi. Semisal, tidak mengemut makanan, mengurangi konsumsi makanan manis, membiasakan minum air putih setelah makan apapun.

– Pada ABK berat, mau tidak mau orangtua/pengasuh yang melakukan perawatan gigi dan mulut. Lakukan sikat gigi minimal 2x sehari. Gunakan sikat gigi yang bisa menjangkau sampai ke ujung gigi dan sela-sela gigi. Pilihlah sikat gigi berbulu lembut agar tidak melukai gusi.

– Cobalah melakukan kegiatan menggosok gigi bersama orangtua di depan cermin. Kegiatan ini akan menyenangkan buat anak, dan ia tertarik melakukannya.

– Gunakan pasta gigi yang aman buat anak bila tertelan. Takaran pasta gigi cukup sebesar biji kacang hijau.

– Gunakan sikat gigi dengan bulu lembut. Bisa sikat gigi manual maupun elektrik. Juga sediakan sikat lidah yang bisa digunakan secara berkala membersihkan lidah dari sisa-sisa susu atau makanan.

– Pastikan anak cukup minum air putih.

– Kurangi konsumsi makanan manis.

Nah, upaya-upaya tersebut akan berhasil bila orangtua dan anak disiplin. Semoga gigi-gigi anak kita sehat agar ia bisa tersenyum manis setiap hari. Smile!

Konsultan Ahli:

Drg. Kiki Seyla Puar, SpKGA

RSAB Harapan Kita, Jakarta

Design a site like this with WordPress.com
Get started